Monday, June 24, 2019

TPA SARBAGITA

TPA SARBAGITA

hay guys aku mau sharing tugas aku mengenai awal mula terbentuknya TPA Sarbagita, semoga membantu ya...


TPA Regional Sarbagita, merupakan TPA yang dirancang untuk melayani 4 wilayah (Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Tabanan). Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi mengakibatkan peningkatan volume sampah. Peningkatan volume sampah mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan seperti pencemaran air, udara, dan tanah. Berdampak terhadap menurunnya derajat kesehatan, sehingga diperlukan sarana dan prasarana pengelolahaan sampah yang memadai. Tahun 2012 UPT pengelolahaan sampah dinas pekerjaan umum dibentuk berdasarkan perda No. 4 thaun 2011 tentang organisasi dan tata kerja perangkat daerah Provinsi Bali yang bertugas untuk mengelola TPA Regional, dan Peraturan Gubernur Bali No, 100 tahun 2011 tentang Organisasi dan Rincian Tugas Pokok UPT di lingkungan Dinas PU Provinsi Bali. Sesuai UU No. 18 tahun 2009 tentang pengelolahaan sampah, diperlukan revitalisasi sarana dan prasarana yang ada agar tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan dengan sistem pengelolahaan sampah Sanitary Landfill. Total luas lahan TPA Regional Sarbagita ± 32,46 Ha, dimana 10 Ha dikelola oleh PT. NOEI ( Navigat Organic Energy Indonesia) bekerja sama dengan BPKS (Badan Pengelolahan Sampah Terpadu) dengan kerjasama antara pemda sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan) sedangkan lahan seluas 22,46 Ha saat ini dikelola oleh Pemerintah Provinsi Bali dengan perjanjian kerjasama kolaborasi antara Dinas Kehutanan Provinsi Bali dengan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali tentang integrasi dan Kolaborasi Pengelolahan TPA Regional Sarbagita dengan ekowisata di Tahura Ngurah Rai.
Tempat Pembungan Akhir (TPA) Suwung menjadi tempat pelabuhan terakhir sampah-sampah yang diproduksi masyarakat kota Denpasar. Tidak hanya bagi masyarakat Kota Denpasar, TPA Suwung Denpasar juga tadi penampungan sampah dari kabupaten lain yang tergabung dalam pemerintahaan sarbagita yakni Denpasar, Badung, Gianyar, dan Kabupaten Tabanan. Dengan luas lahan TPA 32,48 hektar Dinas Kebersihan (DKP) Kota Denpasar dalam pengelolahannya menerapkan sistem kontrol landfel, dn sanitary landfel. Menurut kadis DKP Ketut Wisada didampingi kepala bidang TPA DKP Kota Denpasar, A.A Raka Wedana yang ditemui oleh kami  Beliau mengatakan bahwa penerapan sistem ini dilakukan untuk menurunkan tingginya tumpukan sampah yang berada di beberapa sisi TPA Suwung. Sistem ini dilakukan dengan menumpuk tumpukan sampah dengan tanah secara bertahap, hal ini mampu menurunkan tingginya tumpukan sampah yang saat ini tidak boleh lebih dari 10-15 meter. Beberapa sanitary landfel ini nantinya akan ditanami pohon salah satunya trambesi. Sehingga situasi hijau di kawasan TPA Suwung dapat lebih rindang.
Hal ini bermula dari pemikiran bagaimana penanggulangan sampah yang volumenya selalu meningkat dan selalu menjadi masalah besar terutama di kota-kota besar di Indonesia. Hingga tahun 2020 mendatang, volume sampah perkotaan di Indonesia diperkirakan akan meningkat lima kali lipat (Ivan, 2003). Begitu pula dengan kota Denpasar diprediksi jumlah sampah perhari yang diterima TPA Suwung sekitar 1.842 m³, bahkan bisa mencapai 3.368 m³ atau setara dengan 1.852 ton sampah basah atau 650 ton sampah padat kering siap pakai bila ditambah pasokan sampah dari Kabupaten Badung, Gianyar dan Tabanan (Nawawi, 2003).   Dari jumlah sampah yang besar itu, sangat memungkinkan kesinambungan ketersediaan sampah setiap harinya. Sedangkan proses pengolahan sampah yang sedang berjalan saat ini dilokasi TPA Suwung adalah dengan sistem ”Open Dumping” saja, dimana sampah hanya diletakkan begitu saja dilapangan terbuka tanpa adanya proses lebih lanjut, sehingga semakin hari sampah semakin menumpuk dan memerlukan lahan yang lebih luas serta pencemarannya menimbulkan berbagai masalah lingkungan, bukan hanya sekedar pemandangan yang tak sedap atau bau busuk yang ditimbulkan namun ancaman terhadap kesehatan pun akan meluas.


source by :

Ariawan, Rusdi. 2010. Pengaruh Sistem Pengolahan Sampah Di TPA Suwung Terhadap Lingkungan Sekitar. Retrieved from : https://www.scribd.com/doc/33690422/Pengaruh-Sistem-Pengolahan-Sampah-Di-TPA-Suwung-Terhadap-Lingkungan-Sekitar diakses pada tanggal 15 Oktober 2017
Gede Indra Partha, Cokorda. 2010. Penggunaan Sampah Organik Sebagai Pembangkit Listrik Di TPA Suwung – Denpasar. Teknologi Elektro. Vol. 9 (2).
Patimah, Siti. Kemitraan Kolaboratif Pemerintah Daerah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) Dengan Pihak Swasta Pt Noei Dalam Pengelolaan Sampah Di Wilayah Sarbagita. Retrieved from : https://ojs.unud.ac.id/index.php/citizen/article/download/9441/6985 diakses pada tanggal 15 Oktober 2017

Friday, June 21, 2019

FIKSI: DRAMA CINDERELLA BAD ENDING


Cinderella’s Bad Ending

Tokoh:






Narator
Cinderella
Ibu Tiri
Saudara Tiri 1
Saudara Tiri 2
Ibu Peri
Pangeran
Pengawal


Narator      : Harap perhatian, Bioskop Sen3petal segera dimulai, masing – masing pemimpin pasukan menyiapkan pasukannya.
(Cinderella, Ibu Tiri, dan kedua saudari tirinya masuk (mematung))

Narator      : Pada zaman dahulu, hiduplah seorang gadis yatim piatu yang malang bernama Cinderella. Dia tinggal bersama Ibu Tiri, dan dua saudari tirinya yang kejam. Hidupnya sangaaat menderita. Akankah Cinderella menemukan kebahagiaannya? Anda penasaran? Karena itu, saksikan terus Cinderella’s bad ending… (Keluar)
Ibu Tiri        : Eh Cinderella! Kalau kerja tuh yang bener! Ngepel lantai segitu aja dari tadi nggak siap – siap?!!
S. Tiri          : Iya! Dasar lelet!!
Ibu Tiri        : Nanti habis ngepel, kamu jangan lupa nguras sumur! Ngerti?!
Cinderella       : I…i…i…i…iya ma…
S. Tiri 1       :    Eh, nggak usah sok – sok gagap deh! Sok dramatis banget! Emang sinetron… dramatis?!!
S. Tiri 2       : Terus nanti habis nguras sumur, jangan lupa bersihin kandangnya si Manis ya!
S. Tiri 1       : Tapi hati – hati ya! Katanya sih… si Manis itu suka makan orang!
S. Tiri 2       : Ya iyalah…! Secara gitu, si Manis kan harimau!
Bertiga       : Ha…ha…ha… Yuuu’…
(Ibu Tiri, dan kedua saudara tiri Cinderella pergi meninggalkan ruangan)
Cinderella  : Kenapa sih hidup aku tuh selalu menderita… Hiks…hiks…hiks… (Sambil berlalu)
(Ibu tiri, dan kedua saudara tiri Cinderella berada di dalam ruangan, lalu Cinderella masuk ke ruangan (mematung), Narator masuk)
Narator      : 3 jam 24 menit 51 detik kemudian… Setelah Ciderella menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh Ibu Tiri dan dua saudari tirinya, dia pergi menemui mereka. (Keluar)    
Ibu Tiri        : Gimana?! Sudah siap semuanya?!
Cinderella  : Sudah Ma…
S. Tiri 1       : Awas kalau masih ada yang kotor!
S. Tiri 2       : Iya, awas kamu!
(Pengawal dan Pangeran masuk ke ruangan (semua mematung). Narator masuk)
Narator      : Tiba-tiba seorang Pangeran… Mmm… Yang menurut buku cerita Cinderella yang kami baca… SANGAT TAMPAN… Beliau datang ke rumah Cinderella bersama Pengawalnya. (Keluar)      
Pengawal   : Yang Mulia Pangeran Muda datang!
Ibu Tiri        : (Memberi hormat bersama ketiga anaknya) Maaf Yang Mulia Pangeran. Ada perlu apa Pangeran datang jauh – jauh kemari?
Pangeran    : Maksud kedatangan saya kemari adalah… Lanjutkan Pengawal!
Pengawal   : Mmm… Baik Yang Mulia! Maksud kedatangan kami ke mari adalah untuk memberitahukan bahwa, nanti malam akan diadakan pesta dansa di istana. Pesta diselenggarakan dari pukul 10.00 malam sampai dengan pukul 01.00 dini hari. Pesta itu dibuat untuk mencari calon istri bagi Pangeran. Karena itu, diminta bagi seluruh gadis di kerajaan ini untuk mengikuti pesta tersebut. Demikianlah.
Ibu Tiri        : Jadi, anak-anak saya boleh ikut, Pangeran?
Pangeran    : Of course Madam! Yah saya rasa cukup, kalau begitu saya permisi dulu ya. Dadah…Bye…bye…! (Pergi sambil melambaikan tangan)
Ibu Tiri        : Silakan Pangeran. Terimakasih ya Pangeran… (Bersama kedua anaknya)
(Pangeran keluar dari ruangan bersama pengawalnya. Narator masuk)
Narator      : Mondar-mandir, mondar-mandir, Cabe deh… Huh… Setelah pangeran yang luar biasa tampan itu pergi, Cinderella menemui ibu tiri dan kedua saudari tirinya. Apa yang akan dia lakukan? Hmm… Sebenarnya saya rasa pemirsa sudah tahu, tapi yah… Tonton aja lah… (Keluar)
S. Tiri          : Yees…!
S. Tiri 1       : Ya ampun…! Aku udah nggak sabar banget buat pesta dansa nanti malam…!
S. Tiri 2       : Iya aku juga…! Pokoknya aku bakalan dandan habis – habisan buat pesta dansa nanti malam.
Ibu Tiri        : Ya, dan setelah pesta dansa itu, salah satu dari kalian berdua akan jadi istri Pangeran…! Yeee…! (Bersama – sama sambil tepuk tangan)
Cinderella  : Hmm… maaf Ma, Ella boleh ikut ke pesta nggak Ma…?
Ibu Tiri        : Haah?! Mau ikut ke pesta?! Ya jelas nggak boleh lah!!
S. Tiri 1       : Iya, berani – beraninya mau ikut ke pesta! Nggak pantes tau!!
S. Tiri 2       : Nanti kalau kamu ikut, dikirain gembel lagi! Makanya ngaca dong!
Ibu Tiri        : Daripada minta yang nggak – nggak, mendingan sekarang kamu bantuin kami siap – siap buat pesta nanti malam! (Pergi bersama kedua anaknya, diikuti Cinderella)
(Ibu tiri, dan kedua saudara tiri Cinderella sudah berada di dalam ruangan. Cinderella masuk (mematung). Narator masuk)
Narator      : Pada malam harinya… Ibu tiri dan kedua saudari tiri Cinderella bersiap-siap untuk pergi ke istana dengan mobil BMW mereka. KATANYA… (Keluar)
Ibu Tiri        : Nah sekarang sudah siap semuanya! Kalian cantik – cantik banget sayang!
S. Tiri          : Ya Iya dunks!
Ibu Tiri        : Nah Cinderella, kamu jaga rumah yang bener ya!
Cinderella  : Iya Ma…
S. Tiri         : Da…da… Cinderella…! (Pergi sambil melambaikan tangan).
Cinderella  : (Duduk) Yah, seperti biasa di cerita Cinderella bakal ada Ibu Peri yang akan datang membantu, jadi tenang aja…
(Ibu Peri masuk ke ruangan sambil berputar – putar ala penari balet)
Cinderella  : Tuh kan bener… Tapi kok kurang meyakinkan ya…?
Ibu Peri       : Aduh, pusing beneran… (Diam sejenak) Huh, ingat… wibawa… Hmm… Cinderella, aku adalah Ibu Peri yang akan membantumu mengatasi semua permasalahanmu.
Cinderella  : Ah, yang bener Ibu Peri?? Gimana caranya?
Ibu Peri       : Oh, caranya gampang sekali, cukup ketik REG spasi IBU PERI, kirim ke 1234. SMS yang kamu dapat langsung dari HP saya. Ditunggu ya!
Cinderella  : Aah, serius dong Ibu Peri!
Ibu Peri       : Ya pakai magic dong! Gimana sih?! Namanya juga Ibu Peri… Ya sudah, sekarang kamu ceritakan ke saya semua masalah yang melanda dirimu.
Cinderella  : Baiklah Ibu Peri, cerita ini dimulai sebelum saya lahir. Waktu itu ibu saya…
Ibu Peri       : Sebelum lahir?? Eh tunggu, ceritanya itu nggak usah panjang-panjang. Pokoknya ceritanya itu singkat, padat, dan jelas.
Cinderella  : Ooo gitu, ngobrol dong! Begini Ibu Peri, hidup saya itu sangat menderita. Ibu tiri dan kedua saudara tiri saya itu selalu menyiksa saya. Dan malam ini ada pesta dansa di istana… Tapi mereka melarang saya ke sana karena penampilan saya ini… Hiks…hiks…
Ibu Peri       : Hiks…hiks… Karena di naskah disuruh terharu… Saya juga jadi terharu… (Sambil mengelap matanya dengan baju Cinderella) Baiklah, kalau begitu saya akan langsung mulai dengan memberi kamu gaun yang bagus. Kita mulai prosedur yang pertama… Bim salabim abrakadabrah…!
Cinderella  : (Membuka mata) Lho, kok nggak berubah sih Ibu Peri…
Ibu Peri       : Sabar dong… (Pergi ke belakang Cinderella, mengambil kotak berisi gaun dan peralatan make over) Nah ini dia! (Sambil memberikan kotak tersebut) Di kotak ini semuanya lengkap, ada gaun, lipstick, bedak, eye’s shadow, pokoknya lengkap deh…!
Cinderella  : Kirain habis dibacain manteranya langsung blek! Kepasang semua…
Ibu Peri       : Ssstt! Jangan banyak komentar! Sekarang kamu mau apa lagi? Semuanya, saya beri.
Cinderella  : Saya mau… mobil, plus sopir sama bodyguardnya buat pergi ke istana.
Ibu Peri       : (Merogoh sakunya) Nih! (Sambil memberi selembar uang pada Cinderella)
Cinderella  : Lima ribu? Buat apaan?
Ibu Peri       : Kamu pergi ke istana naik angkot, itu ongkosnya…!
Cinderella  : Naik angkot?!
Ibu Peri       : Iya. Kan lengkap tuh, mobil, sopir, plus bodyguardnya alias kernetnya. Eh nanti ongkosnya jangan lupa diganti ya!
Cinderella  : Udah nyuruh naik angkot, ongkosnya minta diganti pula… Gimana sih ni Ibu Peri… 
Ibu Peri       : Ah jangan banyak komen ah! Ya udah, sekarang tugas saya sudah selesai kan??
Cinderella  : Eh, tunggu dulu Ibu Peri! Sepatu saya gimana? (Sambil menunjukkan kakinya)
Ibu Peri       : Oh iya, sori, ayam forget. Baiklah… Bim salabim abrakadabrah…!
Cinderella  : Nggak terjadi apa – apa lagi?!
Ibu Peri       : Shut up ah! (Lalu mengambil sebuah kotak berisi sepatu di belakang Cinderella) Nih… (Sambil memberikan kotak tersebut pada Cinderella)
Cinderella  : Waah… Kotaknya aja udah bagus banget, gimana isinya ya… (Lalu membuka kotak itu) Hah?! (Lalu mengangkat sepatu dari dalam kotak itu) Kok sepatu kayak ginian sih Ibu Peri?! Warnanya item lagi… Ini mah sepatu sekolah…!
Ibu Peri       : Emangnya kenapa?
Cinderella  : Ya ampun Ibu Peri… (Lalu mengambil sebuah buku dan meniup debu yang ada di atasnya) Haatsyi… haatsyi…
Cinderella  : Ini ya Ibu Peri. (Sambil menunjukkan buku cerita Cinderella) Di buku ini diceritakan bahwa Cinderella itu pergi ke pesta dengan menggunakan sepasang sepatu kaca…!
Ibu Peri       : Oh gitu toh… Saya baru tahu ceritanya… Yah mau gimana lagi lah… Daripada kamu nyeker ke istana?!
Cinderella  : Ya tapi kan… Ah ya udah deh!
Ibu Peri       : Baiklah, sekarang tugas saya disini sudah selesai. Oh ya, ingat! Kamu harus kembali ke rumah jika sudah tepat pukul 12.00 malam! Kalau tidak, semua sihir itu akan lenyap, Ok?!
Cinderella  : Hah?! Jam 12.00 malam?! Sekarang aja udah jam setengah 12 malam?! Terus ditambah waktu perjalanan kesana… Mana cukup waktunya Ibu Peri?!
Ibu Peri       : DL!!! Ya udah, saya pergi dulu ya! (Berputar ala penari balet) Oh iya, lupa! (Berputar lagi ke arah Cinderella) Saya lupa ngasih tagihan pembayaran ini ke kamu. (Sambil memberikan tagihan itu ke Cinderella)
Cinderella  : Tagihan apa nih?
Ibu Peri       : Ini tagihan untuk pembelian baju, make up, sama sepatu.
Cinderella  : Jadi semuanya itu nggak gratis?!
Ibu Peri       : Hari gini gratis?! Hello!! 2013 neng!! Cabe deh… Mahal book… Alah… Udah ya, dadah…! (Berputar)
Cinderella  : Yah kalau gitu mah sama aja bohong…! Iih…!
(Cinderella keluar, Narator masuk.)
Narator      : Di cerita dikatakan bahwa kedatangan Ibu Peri memberikan secercah harapan pada Cinderella... Hmm… Apa iya? Ya sudahlah… Kita lanjut ke istana… Guys! Come in! (Pangeran, Pengawal, Ibu Tiri dan kedua anaknya masuk dan langsung mematung) Akankan Cinderella menemukan kebahagiaannya? Penasaran? Karena itu saksikan terus Cinderella’s Bad Ending… Dan jangan lupa kalau anda terserang gejala flu disertai batuk, minum OBH Combi Flu dan Batuk! (Sambil menunjukkan sebotol obat) Dijamin flu dan batuk anda langsung lewat… Ingat ingat! Ting. (Sambil mengedipkan mata bersama Ibu Peri yang masuk, lalu keluar bersama sambil berputar)
Pangeran    : (Sedang mencari kutu di kepala, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya) Hmm… Yang ini rasanya gurih lho pengawal. (Pengawal sedang memijit pundak Pangeran)
Pengawal   : Wah, enak dong Pangeran?
Pangeran    : Iya dong, kamu mau ngicipin?
Pengawal   : Ah, nggak usah repot – repot Pangeran. Pangeran ini baik sekali lho, sampai – sampai kutu aja ditawarin.
Pangeran    : Harus dong. Ini rahasia ketampananku. Yakin kamu nggak mau?
Pengawal   : Yakin Pangeran. Terima kasih. Hmm… Ngomong – ngomong Pangeran, kok Pangeran nggak berdansa sama para tamu sih?
Pangeran    : Lihat nih! (Sambil menunjukkan jempol kakinya yang bengkak)
Pengawal   : Gilak! Gede banget Pangeran… Ck… ck…ck… Kok bisa Pangeran?
Pangeran    : Mereka semua itu pada nggak bisa dansa, jempol saya ke – injek terus. Jadi kayak gini deh…
Pengawal   : Mereka yang nggak bisa atau Pangeran yang nggak bisa??
Pangeran    : Dua – duanya.
Pengawal   : Ya pantes kalau gitu…
(Cinderella masuk sambil terengah – engah. (Para tamu berbisik – bisik))
Cinderella  : Hosh… hosh…
Pengawal   : Wuih, gilak! Tu cewek cantik banget Pangeran!
Pangeran    : Iya. Saya samperin dulu ya Pengawal.
Pengawal   : Iya Pangeran.
Pangeran    : Wahai gadis yang cantik, siapa gerangan namamu?
Cinderella  : Nama saya… (Tiba – tiba jam berdentang 12 kali dan menunjukkan tepat pukul 12.00 malam) Aduh, sialan! Gara – gara angkotnya tadi mogok jadi telat deh! Hmm… maaf ya Pangeran, tapi saya harus pergi… (Lalu berlari ke arah pintu keluar)
Pangeran    : Tapi…
Cinderella  : (Berusaha melepaskan sepatunya) Iih, kok nggak lepas – lepas sih?! (Melepaskan salah satu sepatunya lalu kembali ke tempat Pangeran dan memberikannya pada Pangeran) Ini Pangeran.
Pangeran    : Hei! Tunggu dulu! Huh… (Lalu mengendus sepatu itu) Ih, gilak! Cantik – cantik sepatunya bau banget! Pengawal!
Pengawal   : Baik Pangeran! (Memakai sarung tangan, lalu memasukkan sepatu itu ke dalam kantong plastik)
Pangeran    : Saya harus menemukan gadis itu…
(Pangeran dan Pengawal keluar. Ibu Tiri, dan kedua anaknya duduk. (Mematung) Narator masuk.)
Narator      : Keesokan harinya, karena begitu penasaran dengan pemilik sepatu yang bau itu… Maka Pangeran dan Pengawalnya pergi mencari si pemilik sepatu yang bau itu dari rumah ke rumah. Hingga akhirnya mereka sampai ke rumah Cinderella. (Keluar)  
S. Tiri 1       : Kira – kira cewek yang kemarin itu siapa ya?
S. Tiri 2       : Tau deh…
Bertiga       : Huh…
(Cinderella masuk sambil membawa minuman. Ketiganya langsung meminum minuman itu. (Serempak) Pangeran dan Pengawal masuk)
Pengawal   : Yang Mulia Pangeran Muda datang!
Ibu Tiri        : (Memberi hormat bersama ketiga anaknya) Maaf Yang Mulia Pangeran. Ada perlu apa Pangeran datang jauh – jauh kemari?
Pangeran    : Maksud kedatangan saya kemari adalah… Lanjutkan Pengawal!!
Pengawal   : Beuh… Baiiik Yang Mulia! Maksud kedatangan kami kemari adalah untuk mencari gadis yang memiliki ukuran kaki yang sama dengan sepatu yang kami bawa ini (Sambil menunjukkan sebuah sepatu). Dan gadis itu akan menjadi istri sang Pangeran. Demikian.
Pangeran    : Begitulah, jadi silakan anak – anak ibu mencoba memakai sepatu ini.
S. Tiri         : Yeess!! Aku duluan… Aku duluan…! (Sambil menarik – narik sepatu itu)
Ibu Tiri        : Eeh! Kalian jangan kelahi! Sekarang kakak yang nyoba duluan, habis itu baru adik!
S. Tiri 1      : Weeek! (Sambil mejulurkan lidah ke adiknya)
S. Tiri 2      : Iih, nggak adil!
S. Tiri 1       : Iih, susah banget sih! (Sambil berusaha memasukkan kakinya ke dalam sepatu itu. Ah, kekecilan nih!
Pengawal   : Teet! Maaf, anda kurang beruntung. Coba lagi lain waktu. Next!
S. Tiri 2       : Kasian deh loe! (Mengejek kakaknya, lalu dia memasukkan kakinya ke dalam sepatu itu) Yes, pas… pas…!
Pengawal   : (Melihat ke sepatu itu) Bohong! Sepatunya kebesaran! Maaf, anda nggak tahu diuntung! Jangan coba lagi lain waktu! Next!
Ibu Tiri        : Kalau mereka nggak berhasil, berarti saya dong peserta selanjutnya!
Pangeran    : Enak aja! Udah tua nyadar dong! Peserta selanjutnya ya gadis itu! (Sambil menunjuk Cinderella)
Cinderella  : Saya, Pangeran?
Pangeran    : Ya iyalah… (Lalu Cinderella mencoba memakai sepatu itu)
Pengawal   : Yak! Pas Pangeran! Inilah dia calon istri Pangeran Muda!
Cinderella  : Yeeee!! Weekk!! (Menjulurkan lidah ke Ibu Tiri dan kedua saudari tirinya)
Bertiga       : Haah???? Kok bisa ?? Yaaah… (Terduduk)
(Ibu Tiri dan kedua anaknya keluar, Pangeran, Pengawal dan Cinderella tetap di dalam. (Mematung) Narator masuk.)
Narator      : Apakah setelah ini Cinderella’s Bad Ending akan berakhir Happy Ending? Anda penasaran? Saya juga… (Keluar)
Pangeran    : Nah Cinderella, ini dia rumah barumu. Rumah baru kita!
Cinderella  : Waah, bagus banget Pangeran! Tadi itu halamannya berapa luasnya Pangeran?
Pangeran    : Yaa, sekitar 10 hektaranlah. Nah Cinderella, sekarang kamu kerjakan tugas kamu ya! (Sambil memberikan sapu dan kain lap)
Cinderella  : Tugas? Maksudnya apa Pangeran?
Pengawal   : Jadi Tuan Putri ini belum paham juga ya? Begini, sebenarnya Pangeran itu mencari istri yang bisa melayani Pangeran dalam segala hal, misalnya menyapu, mengepel atau nyabut rumput gitu.
Cinderella  : Lho, emangnya disini nggak ada pembantu apa?
Pangeran    : Karena krismon, semua pembantu disini saya PHK, dan lagi mereka nuntut gaji yang lebaaayyy. Nah, kalau istri kan nggak perlu digaji…
Cinderella  : Jadi disini saya mesti nyapu, terus nyabut rumput di halaman yang luasnya 10 hektar itu?!
Pengawal   : Lebih tepatnya sih 11 hektar Tuan Putri.
Cinderella  : Kurang ajar!! Kalau gitu mah mendingan saya di rumah yang lama daripada disini! (Berlari keluar)
Pangeran    : Ehh!! Jangan pergi!! (Mengejar Cinderella bersama Pengawal, Narator masuk)
Narator      : Demikianlah cerita Cinderella’s Bad Ending. Dan akhirnya Cinderella hidup menderita selamanya… Hmm… Cerita yang aneh…                
*Selesai ?? -_-"


EDUCATION : TPA SARBAGITA


A.    Asal Mula Terbentuknya TPA REGIONAL SARBAGITA
TPA Regional Sarbagita, merupakan TPA yang dirancang untuk melayani 4 wilayah (Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Tabanan). Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi mengakibatkan peningkatan volume sampah. Peningkatan volume sampah mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan seperti pencemaran air, udara, dan tanah. Berdampak terhadap menurunnya derajat kesehatan, sehingga diperlukan sarana dan prasarana pengelolahaan sampah yang memadai. Tahun 2012 UPT pengelolahaan sampah dinas pekerjaan umum dibentuk berdasarkan perda No. 4 thaun 2011 tentang organisasi dan tata kerja perangkat daerah Provinsi Bali yang bertugas untuk mengelola TPA Regional, dan Peraturan Gubernur Bali No, 100 tahun 2011 tentang Organisasi dan Rincian Tugas Pokok UPT di lingkungan Dinas PU Provinsi Bali. Sesuai UU No. 18 tahun 2009 tentang pengelolahaan sampah, diperlukan revitalisasi sarana dan prasarana yang ada agar tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan dengan sistem pengelolahaan sampah Sanitary Landfill. Total luas lahan TPA Regional Sarbagita ± 32,46 Ha, dimana 10 Ha dikelola oleh PT. NOEI ( Navigat Organic Energy Indonesia) bekerja sama dengan BPKS (Badan Pengelolahan Sampah Terpadu) dengan kerjasama antara pemda sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan) sedangkan lahan seluas 22,46 Ha saat ini dikelola oleh Pemerintah Provinsi Bali dengan perjanjian kerjasama kolaborasi antara Dinas Kehutanan Provinsi Bali dengan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali tentang integrasi dan Kolaborasi Pengelolahan TPA Regional Sarbagita dengan ekowisata di Tahura Ngurah Rai.
Tempat Pembungan Akhir (TPA) Suwung menjadi tempat pelabuhan terakhir sampah-sampah yang diproduksi masyarakat kota Denpasar. Tidak hanya bagi masyarakat Kota Denpasar, TPA Suwung Denpasar juga tadi penampungan sampah dari kabupaten lain yang tergabung dalam pemerintahaan sarbagita yakni Denpasar, Badung, Gianyar, dan Kabupaten Tabanan. Dengan luas lahan TPA 32,48 hektar Dinas Kebersihan (DKP) Kota Denpasar dalam pengelolahannya menerapkan sistem kontrol landfel, dn sanitary landfel. Menurut kadis DKP Ketut Wisada didampingi kepala bidang TPA DKP Kota Denpasar, A.A Raka Wedana yang ditemui oleh kami  Beliau mengatakan bahwa penerapan sistem ini dilakukan untuk menurunkan tingginya tumpukan sampah yang berada di beberapa sisi TPA Suwung. Sistem ini dilakukan dengan menumpuk tumpukan sampah dengan tanah secara bertahap, hal ini mampu menurunkan tingginya tumpukan sampah yang saat ini tidak boleh lebih dari 10-15 meter. Beberapa sanitary landfel ini nantinya akan ditanami pohon salah satunya trambesi. Sehingga situasi hijau di kawasan TPA Suwung dapat lebih rindang.
Hal ini bermula dari pemikiran bagaimana penanggulangan sampah yang volumenya selalu meningkat dan selalu menjadi masalah besar terutama di kota-kota besar di Indonesia. Hingga tahun 2020 mendatang, volume sampah perkotaan di Indonesia diperkirakan akan meningkat lima kali lipat (Ivan, 2003). Begitu pula dengan kota Denpasar diprediksi jumlah sampah perhari yang diterima TPA Suwung sekitar 1.842 m³, bahkan bisa mencapai 3.368 m³ atau setara dengan 1.852 ton sampah basah atau 650 ton sampah padat kering siap pakai bila ditambah pasokan sampah dari Kabupaten Badung, Gianyar dan Tabanan (Nawawi, 2003).   Dari jumlah sampah yang besar itu, sangat memungkinkan kesinambungan ketersediaan sampah setiap harinya. Sedangkan proses pengolahan sampah yang sedang berjalan saat ini dilokasi TPA Suwung adalah dengan sistem ”Open Dumping” saja, dimana sampah hanya diletakkan begitu saja dilapangan terbuka tanpa adanya proses lebih lanjut, sehingga semakin hari sampah semakin menumpuk dan memerlukan lahan yang lebih luas serta pencemarannya menimbulkan berbagai masalah lingkungan, bukan hanya sekedar pemandangan yang tak sedap atau bau busuk yang ditimbulkan namun ancaman terhadap kesehatan pun akan meluas.
B.     Gambaran TPA REGIONAL SARBAGITA

Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani masalah sampah sejak ditimbulkan sampaidengan pembuangan akhir. Secara garis besar, kegiatan pengelolaan samapah meliputi pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, transfer dan transportasi, pengolahan dan pembuangan akhir.
Masalah sampah sampai saat ini masih menjadi masalah yang krusial karna dampaknya bias terkena pada sisi kehidupan. volume sampah yang dihasilkan per orang rata-rata 0,5 kg/kapasitas dan dengan perkiraan 10.000 ton/hari untuk sumber sampah yang terbanyak dari permukiman, rumah tangga, pasar dan sampah kota, dengan jumlah ysng masih tergolong sangat besar tersebut, maka adanya penanganan sampah yang khusus yaitu dengan cara pengomposan. Kota Denpasar menggunakan TPA Suwung sebagai lokasi pembuangan akhir sampah, alternative pembuangan akhir yang dilakukan sekarang ini menggunakan sanitary landfill. Teknologi sanitary landfill yang dikenakal secara umum yaitu sampah dimasukan kedalam lubang, lalu bagian atas sampah ditimbun tanah. Selanjutnya bagian atas timbunan tersebut ditimbun lagi menggunakan sampah dan di tutup lagi dengan menggunakan tanah dan begitu seterusnya. Dengan demikian areal tanah akan lebih efisien karena dapat menghasilkan biogas dari landfill yang berada di bawah permukaan tanah. Akan tetapi menggunakan metode sanitary landfill ini juga menimbulkan permasalahan lingkungan seperti pencemaran tanah, bau, berkembangnya vector penyakit dan berkurangnya estetika lingkungan. Salah satu cara untuk membantu mengurangi permasalahan yang ada dengan melakukan daur ulang sampah dengan penekanan pada proses pengomposan. Proses pengomposan menjadi penting karena 50%-80% sampah kota merupakan sampah organik yang dapat di jadikan kompos. Kompos merupakan hasil penguraian persial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara signifikan oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, baik aerobik maupun anaerobik. Komposting juga merpakan proses dimana bahan organic mengalami penguraian secara biologis, oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik tersebut sebagai sumber energi. Pada dasarnya semua bahan organik padat dapat di jadikan kompos, misalnya limbah organic rumah tangga, sampah-sampah organik pertanian, sampah-sampah organik kota, sampah-sampah organik pasar, pabrik kertas, pabrik gula dll. Jika proses komposting ini berjalan lancar adapun manfaat yang bisa diperoleh yaitu:
1.      Aspek Ekonomi
·         Kompos merupakan salah satu upaya reduksi sampah, sehingga akan mereduksi biaya oprasional pemusnahan sampah.
·         Dengan reduksi sampah, maka dapat memperpanjang usia TPA, sehingga akan mengurangi overload untuk TPA.
·         Kompos sangat dibutuhkan khususnya dalam bidang pertanian, seingga merupakan produk yang dapat dijual.
2.      Aspek Lingkungan
·         Proses pengomposan merupakan proses daur ulang alamiah, sehingga mengembalikan bahan- bahan organic kedalam siklus biologis.
·         Dengan reduksi sampah, maka tumpukan sampah berkurang, pembakaran sampah serta pembuangan sampah ke suangai juga akan berkurang sehingga lingkungan menjadi lebih bersih, sehata, dan dapat mengurangi pencearan di lingkungan sekitar TPA.
3.      Aspek Sosial
·         Membuka lahan pekerjaan
·         Menjadi obyek pembelajaran masyarakat dan di dunia pendidikan.
Selain pengomposan menjadi pupuk organik bagi pertanian, sampah ternyata juga bisa diolah untuk menghasilkan tenaga listrik. Sampah organic pada dasarnya adalah biomassa (senyawa organic) yang dikonversi menjadi energi melalui sejumlah proses pengolahan, baik dengan maupun tanpa oksigen yang bertemperatur tinggi. Energy yang dihassilkan berbentuk energy listrik, gas, energi panas dan energi dingin yang banyak dibutuhkan oleh industri, perkantoran, hotel. Rencana dari TPA Suwung ini juga memiliki oengomposan yang sama agar dapat mneghasilkan energi listrik, namun sampai saat ini TPA Suwung belum juga dapat merealisasikannya dikarenakan volume sampah yang ada di TPA ini sangat banyak.
Air Lindi merupakan limbah cair yang timbul akibat masuknya air ekternal kedalam timbunan samapah, melarutkan dan membilas sampah-sampah teralarut, termaksud juga sampah organic hasil proses dekomposisi biologis. Dapat dikatakan kualitas lindi yang dihasilkan akan banyak tergantung pada masuknya air dari luar, sebagian besar dari air hujan, disamping dipengaruhi oleh aspek operasional yang diterapkan seperti aplikasi tanah penutup, kemiringan permukaan, kondisi iklim, dan sebagainya. Namun TPA Suwung ini tidak melakukan pemerosesan untuk air lindi ini. TPA Suwung hanya merencanakan hasil composting ini untuk menghasilakan energi listrik.
Pemeliharaan TPA secara umum dimaksud utuk menjaga agar setiap prasarana dan sarana yang ada selalu dalam kondisi siap oprasi dengan unjuk kerja yang baik. Sesuai tahapannya perlu diutamakan kegiatan pemeliharaan yang bersifat preventif untuk mencegah terjadinya kerusakan dengan melaksanakan pemeliharaan yang ruti. Serta melakukan pemeliharaan kolektif dimaksudkan untuk segara melakukan perbaikan pada kerusakan-keruakan kecil agar tidak dapat berkembang menjadi besar dan kompleks.
Masalah yang berkaitan dengan pengelolaan TPA saat ini yaitu menurunkan kualitas TPA yang sebagian besar dari sanitary landfill menjadi open dumping. Untuk mendukung pencapaian sasaean pembangunan TPA maka pemerintah menyusun kebijakan dan strategi guna memelihara TPA. Adapun pemeliharaan untuk TPA Suwung ini yaitu :
1.      Pihak pengelolaan dapat menjamin samapah diturunkan, ditutup dan di padatkan secara efisien.
2.      Air sampah (lindi) dan gas harus dikontrol dan dikeringkan untuk menjaga kondisi operasi yang terbaik dan melindungi kesehatan masyarakat serta kesehatan lingkungan.
3.      Pengelolaan TPA sampah harus bertanggung jawab terhadap operasional dan pemeliharaan sanitary landfill.
4.      Pemeriksaan kedatangan sampah
5.      Pengecekan rute pembungan
Sampah itu pada dasarnya tidak diproduksi, tetapi ditimbulakn. Timbulan sampah yang dihasilkan untuk suatu koda sangat tergantung dari jumlah penduduk dan aktivitas masyarakat yang ada di daerah tersebut. Untuk kota-kota di Indonesia, timbulan dan komposisi sampah perkotaan rata-rata 2,5-3,5 liter/orang/hari. Menurut SNI 19-3964-1994 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan KOmposisi Sampah Perkotaan , bila data pengamatan lapangan belum tersedia, maka untuk menghitung besaran timbulan sampah dapat digunakan nilai timbulan sampah sebagai berikut:
a.       Satuan timbulan sampah kota besar = 2-2,5 liter/orang/hari atau 0,4-0,5 kg/orang/hari.
b.      Satuan timbulan sampah kota sedang atau kecil = 1,5-2 liter/orang/hari, atau 0,3-0,4 kg/orang/hari.
Komposisi sampah yaitu komponen fisik sampah seperti  sisa-sisa  makanan,  kertas, karbon,  kayu,  kain  tekstil,  karet  kulit,  plastik,  besi,  kaca,  dll.  Komposisi sampah biasanya dinyatakan sebagai % berat atau % volume terhadap kelompok atau sejenisnya. Sampah rumah tangga pada umumnya mengandung bahan mudah membusuk yang  tinggi  (bisa mencapai  75-80%)  dan  kadar  air yang tinggi (65-70%). Adapun yang dimaksud dengan penanganan sampah di tempat atau pasa sumbernya adalah semua perlakuan terhadap sampah yang dilakukan sebelum sampah ditempatkan dilokasi tempat pembuangan akhir. Suatu material yang sudah dibuang atau tidak dibutuhkan lag, sering kali masih memiliki nilai ekonomis. Penanganan sampah ditempat, dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penanganan sampah pada tahapan penanganan sampah pada tahap-tahap selanjutnya dan mengurangi volume sampah yang akan dibuang ke TPA. Peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam pengelolaan sampah. Dalam program jangka panjang setiap rumah tanggadisarankan mengelola sendiri sampahnya melalui prinsip 3R. Adapun prinsip 3R yang bias diterapkan dakam keseharian yaitu sebagai berikut:
a.       Reduce (mengurangi)
Meminimalisasi barang atau material yang digunakan, seperti:
1.      Membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi sampah kantong plastik pembungkus barang belanja.
2.      Membeli kemasan isi ulang daripada membeli kemasan baru setiap habis sekali pakai
3.      Membeli susu, makanan kering, detergen dan lain-lain dalam paket yang besar daripada membeli beberapa paket kecil untuk volume yang sama. Semakin banyak kita menggunakan material,  semakin  banyak  sampah yang dihasilkan.

b.      Reuse (memakai kembali)
Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapt memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum menjadi sampah. Misalnya adalah :
1.      Memnfaatkan botol-botol bekas untuk wadah
2.      Memanfaatkan kantong plastik bekas kemasan belanja untuk pembungkus
3.      Memanfaatkan pakaian atau kain-kain bekas untuk kerajinan tangan, perangkat pembersih (lap), maupun bebrbagai keperluan lain.
c.       Recycle (daur ulang)
Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk / material bekas pakai.Tidak semua barang bisa didaur  ulang. Material yang dapat didaur ulang antara lain adalah :
1.      Botol bekas wadah kecap, saos, sirup, krim kopi baik yang putih bening maupun yang berwarna terutama gelas atau kaca yang tebal.
2.      Kertas, terutama kertas bekas di kantor, koran, majalah, kardus kecuali kertas yang berlapis (minyak atau palstik).
3.      Plastik bekas wadah sampo, air mineral, jerigen, ember dan lain-lain.
4.      Sampah basah organik dapat diolah menjadi kompos.

Penanganan Sampah dengan Metode Sanitary Landfiil
Dalam penggunaan metode sanitary landfill, alternatif atau cara pengisian lahan TPA sesuai dengan kondisi lahan yang tersedia yang terdiri dari Metode Area, Metode Trench, dan Metode Slope (Tchobanoglous, 1977).
a.      Metode Area (Area Method). Metode ini umumnya digunakan untuk lahan yang tidak rata dan luas.
b.      Metode Slope (Ram Method). Di sini sampah disebarkan dan dipadatkan sedemikan sehingga membentuk kemiringan (slope) tertentu. Tanah penutup dapat diperoleh dari hasil penggalian bagian dasar dari slope tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.7 Pengoperasian Metode Slope (Ram Method)
c.       Metode Trench (Trench Method). Metode Trench diterapkan untuk tanah yang datar dan luas relatif kecil serta tersedia tanah penutup yang cukup. Sampah dibuang ke dalam lubang dan kemudian ditutup dengan tanah penutup pada akhir hari operasi. Tanah penutup diperoleh dari hasil penggalian lubang yang diletakkan di tepi galian lubang dan digunakan setelah parit terisi sampah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.8 Pengoperasian Metode Trench (Trench Method)
C.    Masalah – Masalah Yang Dihadapi TPA
-          Masyarakat Belum Melakukan Pengelolaan Sampah Berbasis “Zero Waste” Skala Rumah Tangga Secara Mandiri
Sampah adalah material sisa dari aktivitas manusia yang tidak memiliki keterpakaian, karenanya harus dikelola. Tanpa pengelolaan secara baik dan benar, sampah dapat menimbulkan kerugian karena akan menyebabkan banjir, meningkatnya pemanasan iklim, menimbulkan bau busuk, mengganggu keindahan, memperburuk sanitasi lingkungan dan ancaman meningkatnya berbagai macam penyakit. Pertumbuhan penduduk di Bali menyebabkan kenaikan volume sampah yang dihasilkan juga. Peningkatan jumlah sampah terjadi seiring deret ukur sedangkan ketersedian lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah mengikuti deret hitung.
Hal ini mengakibatkan lahan TPA memiliki umur yang pendek karena tidak mampu lagi menampung sampah yang ada. Rendahnya teknologi yang dimiliki dan lemahnya infrastruktur menimbulkan permasalahan sampah yang cukup rumit terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Pemerintah selaku stakeholder mempunyai kewajiban untuk menerapkan sistem pengelolaan sampah yang efektif dalam mengatasi permasalahan sampah. Selain itu, peran serta masyarakat juga diharapkan dapat membantu mengatasi masalah tersebut karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap masalah akibat keberadaan sampah mempunyai andil besar dalam memperburuk tata kelola sampah. Konsep yang sering dilakukan adalah konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle), konsep ini sangat cocok untuk dilakukan di negara berkembang karena konsep ini dilakukan tanpa menggunakan teknologi dan menggunakan peran masyarakat sebagai pelaku yang menghasilkan sampah. Namun konsep 3R ini hanya menjadi slogan saja yang tidak pernah dilaksanakan konsepnya.
Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah pengelolaan sampah secara mandiri pada skala rumah tangga. Pengelolaan sampah skala rumah tangga dapat dilakukan dengan konsep zero waste. Prinsip nol sampah atau zero waste merupakan konsep pengelolaan sampah yang didasarkan pada kegiatan daur ulang (Recycle). Pengelolaan sampah dilakukan dengan melakukan pemilahan, pengomposan dan pengumpulan barang layak jual (Ika, 2000). Menurut Maharani, dkk (2007), penggunaan kembali, minimalisasi, dan daur ulang sampah adalah hal yang sangat perlu dilakukan  untuk mengurangi timbulan sampah yang membebani TPA dan lingkungan. Jika memungkinkan, 3R dilakukan sejak dari sumber timbulan sampah sehingga terjadi minimalisasi sampah yang  diangkut menuju TPA. Zero waste pada dasarnya bukanlah pengelolaan hingga tidak ada lagi sampah yang dihasilkan karena tidak ada aktivitas manusia yang tidak menghasilkan sampah. Namun, konsep ini menekankan pada upaya pengurangan hingga nol jumlah sampah yang masuk ke TPA. Namun pada masyarakat Denpasar dan sekitarnya penerapan prinsip nol sampah atau zero waste belum terlaksana dengan baik, jumlah angkutan sampah yang datang dan juga peningkatan jumlah sampah yang terdapat pada TPA Regional Sarbagita membuktikan bahwa masyarakat masih belum sadar dan paham akan pemilihan sampah dalam skala rumah tangga. Jika hal ini terus dibiarkan maka setiap tahunnya peningkatan jumlah sampah akan terus terjadi.
-          Belum Adanya Pihak Lain Yang Dapat Mengelola Sampah Lintas Wilayah TPA Regional SARBAGITA
Pada tahun 2007 Pihak TPA Sarbagita pernah bekerjasama dengan PT NOEI untuk mengolah sampah menjadi energi listrik. Namun sejak beroperasi di tahun 2007 hingga kini, PT NOEI belum mampu mengolah sampah dengan baik. Ketidak optimalan kinerja PT NOEI membuat semakin hari volume sampah yang tertimbun di TPA Suwung semakin menumpuk. Sampai saat ini PT NOEI hanya mampu menghasilkan 0,86 mega watt listrik, sangat jauh dari komitmen awal perjanjian dimana PT NOEI akan menghasilkan listrik sebesar 10 mega watt. Pengolahan sampah melalui IPST ini belum berjalan dengan baik karena PT NOEI belum dapat merealisasikan teknologi gasifikasi. Teknologi gasifikasi yang akan dikembangkan oleh PT NOEI memerlukan biaya yang cukup tinggi. Kerjasama Pemerintah Daerah Sarbagita dengan PT NOEI memiliki jangka waktu hingga 20 Tahun. Kewajiban dari Pemerintah Daerah Sarbagita dalam kemitraan ini yaitu menyediakan sampah minimum 500 ton perharinya serta menyediakan lahan untuk pembangunan instalasi pengolahan sampah terpadu. Seluruh pembiayaan pembangunan serta pengolahan sampah menjadi tanggung jawab dari pihak PT NOEI. Selain mengolah sampah untuk dijadikan listrik, IPST juga akan mengolah sampah untuk dijadikan kompos. Proyek IPST Sarbagita mulai beroperasi sejak tahun 2007 tepatnya tanggal 13 Desember 2007. Sejak mulai beroperasi hingga kini, IPST Sarbagita belum efektif dalam mengelola sampah-sampah yang berada di area TPA Suwung. Semakin banyaknya volume sampah yang dikirim ke TPA Suwung tidak diimbangin dengan pengelolaan yang baik sehingga TPA Suwung kini berubah menjadi pegunungan sampah. Jika merujuk pada kesepakatan kontrak kemitraan antara pemerintah Sarbagita dengan PT NOEI, PT NOEI berkewajiban untuk mengelola seluruh sampah yang ada di TPA Suwung baik itu sampah baru maupun sampah lama untuk dijadikan listrik. PT NOEI berkewajiban untuk menghasilkan listrik hingga 10 megawatt dan listrik tersebut akan dijual kepada pihak PLN. Terhitung sejak mulai beroperasi di tahun 2007 hingga kini PT NOEI hanya mampu menghasilkan listrik sebesar 0,86 megawatt listrik yang dimana sangat jauh dari komitmen awal kerjasama yaitu listrik yang dihasilkan adalah sebesar 10 megawatt. Setelah memutuskan kontrak dengan PT NOEI sampai saat ini belum ada investor yang mau mengelola sampah di TPA Regional Sarbagita. Sampai saat ini Pemerintah Sarbagita masih membuka pintu untuk para investor yang mau mengelola sampah di TPA Regional Sarbagita.
-          Bau Sampah Yang Tercium Sampai Ke Pemukiman Warga Dan Perubahan Aliran Dan Volume Tanah
Sampah yang tertimbun di TPA Regional Sarbagita mengeluarkan aroma yang busuk. Bau sampah yang dihasilkan ternyata tercium sampai kepemukiman warga. Beberapa kali warga yang tinggal di area sekitar TPA Regional Sarbagita melayangkan protes kepada pihak TPA karena bau sampah yang sangat mengganggu. Selain itu masyarakat sekitar juga pernah akan memaksa menutup TPA bila aroma tak sedap tersebut belum hilang. Masalah lain yang akan timbul yaitu terjadinya perubahan pada aliran dan volume tanah yang ditimbulkan akibat adanya pembuatan lapisan kedap air di sekitar lokasi. Dengan terjadinya perubahan pada aliran dan volume air tanah di sekitar lokasi maka kemungkinan akan mengganggu kepentingan dan fungsi dari sumur-sumur yang selama ini dipergunakan penduduk sekitar lokasi. Secara geologi akan terjadi perubahan struktur lapisan tanah sebagai akibat dilakukannya pembersihan lahan, pematangan tanah maupun pelapisan oleh sampah atau tanah itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya perubahanangka permeabilitas tanah, berkurangnya daya dukung tanah dan berkurangnya kesuburan tanah karena hilangnya humus penyubur tanah.
D.    Penyelesaian/Solusi
Melihat masalah diatas penyelesaian atau solusi yang dapat diberikan adalah sebagai brikut
-          Masyarakat Belum Melakukan Pengelolaan Sampah Berbasis “Zero Waste” Skala Rumah Tangga Secara Mandiri
Pemerintah Daerah hendaknya menerapkan peraturan PP No.81 Tahun 2012 yang mewajibkan setiap warganya untuk melakukan pemilahan sampah dari sumbernya serta menerapkan sangsi bagi yang tidak bersedia memilah sampah harus mengelola sampahnya sendiri dengan membuang sampah ditempat sendiri. Selain itu juga pemerintah menggencarkan kembali tentang pengolahan sampah berbasis “Zero Waste” sampai ke ibu - ibu rumah tangga, dan juga memperbaiki sistem yang sudah ada dengan cara menyediakan bak sampah dan truk dengan warna yang berbeda untuk masing-masing jenis sampah. Pemerintah Daerah melalui Dinas Kebersihan yang melibatkan aparatur kecamatan/ Kelurahan agar memantau proses pemilahan sampah yang dilakukan oleh rumah tangga secara periodik/ berkala. Aspek sosial-budaya juga berperan dalam tercapainya pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis zero waste secara mandiri yaitu adanya agent of change sekaligus block leader di dalam lingkungan rumah yang menyebarluaskan informasi dan memotivasi anggota keluarga yang lain untuk melakukan pengelolaan sampah terutama dalam pemilahan sampah.
-          Belum Adanya Pihak Lain Yang Dapat Mengelola Sampah Lintas Wilayah TPA Regional SARBAGITA
Setelah memutuskan kontrak dengan PT NOEI Pemerintah Daerah Sarbagita masih mencari pihak ketiga yang dapat diajak untuk bekerjasama dalam mengatasi masalah. Rekomendasi yang dapat kami berikan yaitu pembuatan bank sampah di areal TPA Regional Sarbagita. Meskipun hanya dapat mengurangi sedikit sampah di TPA Sarbagita, jika program ini dilakukan secara benar dan terstruktur dalam jangka waktu yang lama maka sampah-sampah dapat berkurang sedikit. Selain itu pemerintah hendaknya lebih aktif lagi untuk mencari pihak ketiga yang dapat membantu mengelola sampah di TPA Regional Sarbagita dengan skala yang lebih besar sehingga permasalahan sampah yang ada di TPA Regional Sarbagita dapat tertangani dengan lebih baik.
-          Bau Sampah Yang Tercium Sampai Ke Pemukiman Warga Dan Perubahan Aliran Dan Volume Tanah
Rekomendasi yang dapat kami berikan dalam permasalahan ini yaitu dengan mengefektifkan dan memaksimalkan sistem pengolahan yang ada di TPA Suwung seperti sanitari landfill, program ini pernah digunakan namun karena keterbatasan dana akhirnya diberhentikan. Kelebihan dari sistem ini adalah dapat mencegah timbulnya bau dan penyakit namun kekurangan dari sistem ini yaitu pemerintah harus menyiapkan dana yang lebih untuk membeli tanah yang digunakan untuk menimbun sampah selain itu juga dapat menimbulkan bau gas yang dapat mencemarkan udara. Sebelum dilakukan penimbunan sebaiknya sampah diolah terlebih dahulu dengan caradihancurkan dengan tujuan untuk memperkecil volume sampah agar memudahkan pemampatan sampah. Untuk melakukan ini tentunya perlu tambahan pekerjaanyang berujung pada tambahan dana.























DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Laporan Akhir Perencanaan Teknis TPA Regional Bangli. Denpasar : Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan dan Drainase Provinsi Bali.
Anonim. 2008. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Jakarta : Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Ariawan, Rusdi. 2010. Pengaruh Sistem Pengolahan Sampah Di TPA Suwung Terhadap Lingkungan Sekitar. Retrieved from : https://www.scribd.com/doc/33690422/Pengaruh-Sistem-Pengolahan-Sampah-Di-TPA-Suwung-Terhadap-Lingkungan-Sekitar diakses pada tanggal 15 Oktober 2017
Artiningsih, N. K. A. (2008). Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga (Studi kasus di Sampangan dan Jomblang, Kota Semarang) (Doctoral dissertation, program Pascasarjana Universitas Diponegoro).
Astuti, D. (2008). Analisis Kualitas Air Lindi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Putri Cempo Mojosongo Surakarta. Jurnal kesehatan1, 29-37.
Darmawi, H. 2006. Manajemen Risiko. Cetakan kesepuluh. Jakarta : Bumi Aksara.
Gede Indra Partha, Cokorda. 2010. Penggunaan Sampah Organik Sebagai Pembangkit Listrik Di TPA Suwung – Denpasar. Teknologi Elektro. Vol. 9 (2).
Patimah, Siti. Kemitraan Kolaboratif Pemerintah Daerah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) Dengan Pihak Swasta Pt Noei Dalam Pengelolaan Sampah Di Wilayah Sarbagita. Retrieved from : https://ojs.unud.ac.id/index.php/citizen/article/download/9441/6985 diakses pada tanggal 15 Oktober 2017
Ulfah, M. (2004). Gambaran Pengelolaan Sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung Kota Depok. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta8, 2000-2010.
Wahyuning Widiani, Ika. 2012. Pengelolaan Sampah Berbasis “Zero Waste” Skala Rumah Tangga Secara Mandiri. Jurnal Sains dan Teknologi.